- Apa itu batik
Kata
batik diambil dari kata “ambatik”, yaitu kata “amba” (bahasa jawa) yang berarti
menulis dan “tik” yang berarti titik kecil, tetesan, atau membuat titik. Jadi,
batik adalah menulis atau melukis titik. Secara umum, membatik adalah sebuah
teknik menahan warna dengan lilin malam secara berulang-ulang di atas kain.
Lilin malam digunakan sebagai penahan untuk mencegah agar warna tidak menyerap
ke dalam serat kain di bagian-bagian yang dikehendaki.
Kata
batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak Motif Batik menggunakan canting atau cap, dan pencelupan
kain dengan menggunakan bahan perintang warna Motif Batik pada Baju Batik
"malam" (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan
masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah
wax-resist dyeing.
Jadi kain
Baju Batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan
canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna. Teknik
ini hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti
katun, sutra, wol dan tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan
(polyester). Kain yang pembuatan corak Batik Solo dan pewarnaannya tidak
menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik - biasanya dibuat
dalam skala industri dengan teknik cetak (print) - bukan kain batik. Batik
adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari
budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama.
- Sejarah batik di Indonesia
Di
Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit. Batik yang
dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal
setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Pada
awalnya, batik digunakan sebagai hiasan pada daun lontar yang berisi naskah
atau tulisan agar tampak lebih menarik. Seiring perkembangan Interaksi Bangsa
Indonesia dengan bangsa asing, maka mulai dikenal media batik pada kain. Sejak
itu, batik mulai digunakan sebagai corak kain yang berkembang sebagai busana
tradisional, khusus digunakan di kalangan ningrat keraton. Karena banyak
pengikut raja yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa ke
luar keraton dan dikerjakan di tempat masing-masing. Zaman pun berkembang,
akhirnya kesenian batik mulai diterapkan oleh para wanita untuk mengisi waktu
senggang. Dan akhirnya batik sudah menjadi pakaian yang merakyat. Pada waktu
itu, bahan pewarna yang dipakai berasal dari pohon mengkudu, soga, nila, dan
bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Sedangkan kain putih yang dipakai merupakan hasil tenun sendiri.
Seni
Batik tetap hidup subur di Indonesia, dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.
Bila kita bandingkan batik yang kita kenal sekarang dengan batik puluhan tahun
yang silam, tidak begitu banyak perubahan ; baik bahan, cara maupun coraknya.
Sifat inilah yang menyebabkan seni batik mudah dipelajari, dari generasi ke
generasi.
Mengenai
asal mula Batik Indonesia, ada beberapa pendapat :
Ditinjau
dari Sejarah Kebudayaan, Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparta menyatakan bahwa
sebelum masuknya kebudayaan India bangsa Indonesia telah mengenal teknik
membuat kain batik.
Ditinjau
dari design batikdan proses “Loax-resist tehnique”, Prof. Dr. Alfred Steinmann
mengemukakan bahwa, Telah ada semacam batik di Jepang pada zaman dinasti Nara
yang disebut “Ro-Kechr”, di China pada zaman dinasti T’ang, di Bangkok dan
Turkestan Timur. Design batik dari daerah-daerah tersebut pada umumnya bermotif
geometris, sedang batik Indonesia lebih banyak variasinya. Batik dari India
Selatan (baru mulai dibuat tahun 1516 di Palekat dan Gujarat) adalah sejenis
kain batik lukisan lilin yang terkenal dengan nama batik Palekat. Perkembangan
batik India mencapai puncaknya pada abad 17-19. Daerah-daerah di Indonesia yang
tidak terpengaruh kebudayaan India, ada produksi batik pula, misalnya di
Toraja, daerah Sulawesi, Irian dan Sumatera. Tidak terdapat persamaan ornamen
batik Indonesia dengan ornamen batik India. Misal : di India tidak terdapat
tumpal, pohon hayat, caruda, dan isen-isen cece serta sawut.
Ditinjau
dari sejarah, Baik Prof. M. Yamin maupun Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparta,
mengemukakan bahwa batik di Indonesia telah ada sejak zaman Sriwijaya, Tiongkok
pada zaman dinasti Sung atau T’ang (abad 7-9). Kota-kota penghasil batik,
antara lain : Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem, Banyumas, Purbalingga,
Surakarta, Cirebon, Tasikmalaya, Tulunggagung, Ponorogo, Jakarta, Tegal,
Indramayu, Ciamis, Garut, Kebumen, Purworejo, Klaten, Boyolali, Sidoarjo,
Mojokerto, Gresik, Kudus, dan Wonogiri.
Teknologi
pembuatan batik di Indonesia pada prinsipnya berdasarkan Resist Dyes Technique
atau Teknik celup rintang. Untuk membuat motif batik umumnya dilakukan dengan
cara tulis tangan dengan canting tulis (batik tulis atau batik painting),
menggunakan cap dari tembaga disebut (batik cap), dengan jalan dibuat motif
pada mesin printing (batik printing), dengan cara dibordir disebut batik
bordir, serta dibuat dengan kombinasi. Motif unik itu bisa mengambil
bentuk-bentuk bangunan bersejarah, flora, fauna dan keindahan alam di
Indonesia.
Perkembangan
batik di Indonesia sudah mulai modern. Memasuki era globalisasi, ternyata batik
juga telah mengikuti kemajuan teknologi, salah satunya yaitu dalam hal metode
pembuatan batik. Metode pembuatan batik sebelumnya yaitu dibentuk langsung oleh
tangan seorang perancang dengan menggunakan canting dan pensil. Kini di zaman
yang serba canggih, metode pembuatan batik dapat dengan mudah ditemui, beberapa
metode pembuatan batik yaitu dengan menggunakan cap dan cetak seperti sablon,
printing, serta software yang dapat digunakan pengrajin untuk mendesain batik
dengan beragam motif.
Kini
batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia. Dan pada hari Jumat
tanggal 2 Oktober tahun 2009, Educational Scientific and Cultural Organisation
(UNESCO), menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia. Hari yang
dinanti-nantikan oleh seluruh penduduk ini pun dijadikan sebagai Hari Batik.
- Jenis-jenis batik
Batik
Tulis : antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya agak berbeda walaupun
bentuknya sama. Bentuk isen-isen relatif rapat, rapih, dan tidak kaku.
Batik Cap
: antara ornamen yang satu dengan ornamen lainnya pasti sama, namun bentuk
isen-isen tidak rapi, agak renggang dan agak kaku. Apabila isen-isen agak rapat
maka akan terjadi mbeleber (goresan yang satu dan yang lainnya menyatu,
sehingga kelihatan kasar).
Batik
Printing : ornamen bisa sama, bisa tidak, karena tergantung desain batik yang
akan ditiru, karena batik printing biasanya meniru batik yang sudah ada, namun
yang perlu diketahui tentang warna. Warna batik printing kebanyakan tidak
tembus karena proses pewarnaannya satu muka saja.
- Pembuatan Batik
Untuk
membuat batik, yang pertama kali hars dilakukan adalah proses waxing yaitu menggambar
motif batik dengan menggunakan lilin cair di atas sebuah kain, dan kemudian dilakukan
proses pencelupan/pewarnaan. Bagian yang tertutup oleh lilin akan menolak
pewarna sehingga saat lilin dihilangkan warna yang dihasilkan adalah warna asli
dari kain itu sendiri. Proses waxing dan pencelupan dapat diulang untuk
menciptakan desain yang lebih rumit dan penuh warna. Setelah pencelupan akhir
lilin akan dihapus dan kain sudah siap untuk digunakan.
Alat
Yang Dibutuhkan Untuk Membatik
a.
Sehelai Kain Putih
Pada awal
kemunculannya, kain yang digunakan sebagai bahan batik adalah kain hasil
tenunan sendiri. Kain putih import baru dikenal sekitar abad ke-19. sekarang
ini anda dapat dengan mudah mendapatkan kain putih dengan harga terjangkau.
Jenis kain yang dapat digunakan pun beraneka ragam, dari jenis kain mori sampai
jenis sutera. Ukuran pun tidak harus lebar, cukup dengan ukuran kecil.
b. Canting
Canting
berfungsi sebagai pena, yang diisi lilin cair sebagai tintanya. Bentuk canting
beraneka ragam, dari yang berujung satu hingga beberapa ujung. Canting yang
memiliki beberapa ujung berfungsi untuk membuat titik dalam sekali sentuhan.
Sedangkan canting yang berujung satu berfungsi untuk membuat garis, lekukan dan
sebagainya. Canting terdiri dari tiga bagian. Pegangan canting terbuat dari
bamboo. Terdapat mangkuk sebagai tempat lilin, serta ujung yang berlubang sebagai
ujung pena tempat keluarnya lilin.
Sebelum digunakan, lillin harus dicairkan terlebih dahulu dengan cara dipanaskan di atas kompor atau pemanas lain. Lilin dalam proses pembuatan batik tulis berfungsi untuk menahan warna agar tidak masuk ke dalam serat kain di bagian yang tidak dikehendaki. Sedangkan bagian yang akan diwarnai dibiarkan tidak ditutupi lilin.
Pewarna batik yang digunakan setiap daerah berbeda-beda. Pewarna tersebut berasal dari bahan-bahan yang terdapat di daerah tersebut. Di Kebumen misalnya,pewarna batik yang digunakan adalah pohon tom, pohon pace dan mengkudu yang memberi warna merah kesemuan kuning. Di Tegal digunakan pace atau mengkudu, nila, dan soga kayu.
Bahan-bahan
Penting Untuk Membuat Batik
Berikut
adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik seperti yang ditulis oleh
S.K. Sewan Susanto, S. Teks. dalam bukunya Seni Kerajinan Batik Indonesia,
yaitu kain, lilin, zat pewarna dan zat pembantu:
Kain yang
biasa dijadikan kain batik adalah kain putih yang disebut kain mori, atau nama
lainnya adalah muslim atau cambric. Kain mori dapat berasal dari katun, sutera
asli atau tiruan, namun katun lebih banyak digunakan. Mori dari katun
berdasarkan kehalusannya terdiri atas 4 golongan yaitu:
a.
Primissima, golongan yang sangat halus
Kata
‘Primissima’ mungkin berasal dari kata primus atau prima yang artinya kelas
satu. Mori yang paling halus ini biasanya digunakan untuk membuat batik tulis,
jarang digunakan untuk batik cap. Mori golongan ini dulu diimport dari Belanda
dan Jepang. Sejak 1970 di Indonesia juga didirikan pabrik yang memproduksi yang
kualitasnya mendekati golongan Primissima.
b.
Prima, golongan yang halus
Kata
‘Prima’ juga berasal dari kata prime atau kelas satu. Seperti golongan pertama,
kain ini biasa didapatkan secara import, namun kini Indonesia sudah memproduksi
kain yang mendekati kualitas golongan Prima.
c.
Biru atau medium, golongan dengan kehalusan sedang
Kata
‘biru’ didapat dari merk kain ini yang dicetak dengan tinta biru. Biru diimport
dari Belanda, Jepang, India dan China.Golongan kain ini biasanya digunakan
untuk membuat batik sedang atau kasar. Batik dari kain golongan ini disebut
‘Batik Sandang’.
d.
Kain Blaco atau grey yang kasar
Golongan
kain paling kasar ini juga disebut grey karena warna kain yang belum
diputihkan. Pengusaha batik juga sering menenun sendiri kain ini dengan alat
tenun bukan mesin.
Lilin
adalah bahan batik yang digunakan untuk menutupi permukaan kain yang tidak
diwarnai sesuai ragam hiasnya. Sebelum menggunakan lilin, pembatik sempat
menggunakan bubur ketan. Setelah diketemukannya lilin, bubur ketan tidak
digunakan lagi. Awalnya pembatik di Jawa mendapatkan lilin tawon (beewax) dari
Sumatra, Sumbawa dan Timor. Pada akhir abad ke 19 mereka mulai menggunakan
ozokerite dari Eropa. Kini, sesuai yang tercantum dalam buku Seni Kerajinan
Batik Indonesia, bahan pokok lilin yang digunakan adalah campuran dari
lilin/malam tawon, gondorukem, damar mata kucing, parafin, microwax, dan kendal.
Jumlah dan perbandingan bahan bermacam macam, dan sering kali dirahasiakan.
Berikut penjelasan lebih lanjut atas bahan-bahan pokok lilin batik tersebut:
a.
Lilin/Malam Tawon
Bahan ini
biasanya didapatkan dari Timor dan Palembang. Berwarna kuning suram, sifatnya
mudah meleleh dengan titik didih rendah, mudah melekat pada kain, tahan lama
dan mudah dilepaskan dari kain dengan menggunakan air panas
b.
Gondorukem
Berasal
dari getah pinus merkusi, digunakan agar lilin menjadi lebih keras dan tidak
menjadi cepat membeku.
c.
Damar Mata Kucing
Didapatkan
dari pohon Shorea, digunakan agar lilin dapat membentuk bekas atau garis-garis
lilin yang baik, melekat pada kain dengan baik
d.
Parafin
Bahan
ini berwarna putih atau kuning muda, digunakan agar lilin batik memiliki daya
tahan tembus basah yang baik dan mudah dilepas dari kain, serta bahannya
relatif lebih murah dibanding bahan-bahan yang lain.
e.
Microwax
Merupakan
jenis parafin yang lebih halus, digunakan agar lilin lemas (ulet) dan mudah
lepas.
f.
Kendal
Kendal
atau gajih atau lemak binatang disebut juga lemak atau vet. Berwarna putih dan
biasanya didapatkan dari daging lembu atau kerbau. Digunakan untuk merendahkan
titik didih, melemaskan lilin dan mudah dilepas dari kain.
Ada
beberapa perbedaan yang mendasar antara batik tulis, batik cap, batik cetak dan
batik print, pada umumnya bahan pewarnaan menggunakan bahan-bahan kimia,
sedangkan batik tulis untuk bahan warnanya semuanya menggunakan bahan-bahan
alami seperti kulit pohon, kayu pohon, bunga, buah, akar pohon, daun dsb.
Karena pada dasarnya, setiap kulit/kayu/buah/akar pohon adalah unique,
menghasilkan warna-warna tertentu.
Dalam
pembuatan Batik Tulis akan melalui beberapa tahapan proses :
1.
Ngloyor, yaitu
Proses membersihkan kain
dari pabrik yang biasanya masih mengandung kanji, menggunakan air panas yang
dicampur dengan merang atau jerami.
2.
Ngemplong, yaitu
Proses memadatkan
serat-serat kain yang baru dibersihakan.
3.
Memola, yaitu
Pembuatan pola menggunakan
pensil ke atas kain.
4.
Mbatik, yaitu
Menempelkan lilin/malam
batik pada pola yang telah digambar menggunakan canthing.
5.
Nembok, yaitu
Menutup bagian yang nantinya
dibiarkan putih dengan lilin tembokan.
6.
Medel, yaitu
Mencelup kain yang telah
dipola, dilapisi lilin ke pewarna yang sudah disiapkan.
7.
Ngerok/Nggirah, yaitu
Proses menghilangkan lilin
dengan alat pengerok.
8.
Mbironi, yaitu
Menutup bagian2 yang akan
dibiarkan tetap berwarna putih dan tempat2 yang terdapat cecek (titik titik).
9.
Nyoga, yaitu
Mencelup lagi dengan pewarna
sesuai dengan warna yang diinginkan.
10.
Nglorod, yaitu
Proses menghilangkan lilin
dengan air mendidih untuk kemudian dijemur.
Proses
pewarnaan, penghilangan lilin dapat dilakukan berkali-kali sampai menghasilkan
warna dan kualitas yang diinginkan. Makanya kemudian ada Batik dengan istilah
1x proses, 2x proses, 3x proses. Batik Tulis 1x proses pun, dapat diselesaikan
oleh ahlinya paling cepat dalam waktu 1 minggu, apalagi yang melalui 2x proses,
3x proses dan seterusnya, bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan
berbulan-bulan.
Sumber :
1. http://batikcrb.blogspot.com/2009/04/apa-itu-batik.html
2. http://batikcrb.blogspot.com/2009/05/perbedaan-antara-ciri-ciri-batik-tulis.html
3. http://batikcity.com/apa-itu-batik-definisi-batik/
4. http://batikcity.com/batik-tulis/
5. http://batikcrb.blogspot.com/2009/04/alat-yang-dibutuhkan-untuk-membatik.html
6. http://batikcity.com/bahan-bahan-penting-untuk-membuat-batik/
7. http://adajendeladunia.blogspot.com/2012/03/asal-muasal-batik-di-indonesia.html
8. http://imamcapunk.wordpress.com/2012/03/29/perkembangan-batik/
9. http://imamcapunk.wordpress.com/2012/03/29/sejarah-batik/
10. http://imamcapunk.wordpress.com/2012/03/29/asal-mula-batik/
11. http://kumpulansejarah-di.blogspot.com/2010/01/asal-usul-batik.html
12. http://zianka4art.blogspot.com/2010/10/sejarah-batik-indonesia.html
13. http://programatujuh.wordpress.com/2012/03/15/modernisasi-batik-perkokoh-budaya-bangsa/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar